Berpikir positif atau berprasangka baik, dalam bahasa kerennya sih huznudzon, kadang sulit kita lakukan. Ketika datang suatu masalah atau hal yang berkaitan dengan seseorang terhadap kita, jika hal yang diperbuatnya tidak sesuai dengan keinginan kita, umumnya kita akan menerka-nerka apa saja yang ia perbuat dari tadi dan akhirnya timbullah pikiran-pikiran negatif dan muncullah prasangka buruk yang disebut su’udzon.
Mencoba mengganti pikiran-pikiran buruk menjadi pikiran-pikiran baik kadang masih menyisakan suatu hal buruk yang membekas dalam diri kita, “Kok dia gitu si?”. Ya, itulah manusia, memang pada dasarnya sangat suka mencari-cari kesalahan.
Entah kenapa, dulu saya sangat suka menerka-nerka kesalahan yang dibuat orang lain. Misalnya, dan yang paling sering adalah, menunggu teman ketika janjian. Padahal saya sudah datang on time, tapi ternyata dia datangnya telat, lalu tidak memberi kabar, dan ketika datang pun tidak meminta maaf. Berkali-kali hal itu dilakukan, lama-lama BeTe juga. Yah.. akhirnya muncullah pikiran-pikiran negatif di otak saya, seolah saling berlomba untuk bermunculan.
Akhirnya, karena merasa ‘dikerjai’ terus menerus sama teman, muncullah perasaan ingin membalas, balas telat.. tapi,, tetap saja, saya duluan yang datang. Berjuta pertanyaan “Kenapa?” muncul di otak saya, dan saya pun berpikir seperti menghabiskan banyak waktu saja untuk menunggu dia. Ingin marah, tapi gak bisa karena dia adalah temanku. Dihubungi, hapenya tak dibawa atau mati. Bagaikan di ambang tak menentu.
Saat suasana seperti itu, sangat sulit sekali bagi saya untuk mencoba tidak su’udzon, yang ada malah prasangka, pikiran, dan perasaan yang tidak enak di hati.
Setelah dinasehati teman dan membaca buku-buku yang berkaitan, akhirnya saya pun sadar bahwa selama ini saya sangat suka yang namanya su’udzon, bukan hanya su’udzon melainkan hal-hal kecil yang diucapkan pun bernuansa negatif. Dan saat ini pun saya sedang berusaha merubah sifat buruk saya itu, ya, mulai belajar berpikir positif.
Ternyata, berpikir positif itu menyenangkan, jadi gak stress. Kalau disuruh menunggu, ya.. bawa apa gitu yang bisa kita lakukan, buku, pe er , de el el. Mencari seribu satu alasan agar kita tidak ber-su’udzon pada orang lain bisa membuat hati kita menjadi tenang dan bahkan seharusnya kita khawatir pada keadaannya, siapa tau dia telat karena ada masalah di jalan atau di rumah, siapa tau dia tidak datang karena ada hal-hal yang lebih penting dan tidak sempat diberitahukan ke kita.
Kata-kata kecil ini saya ingat dari seorang teman ketika syuro kemarin, ketika pada saat syuro kami dibagi menjadi tiga komisi dan kami yang satu komisi baru menyelesaikan setengah agenda dan harus dipresentasikan kepada seluruh peserta syuro. Sederhana memang, tapi memiliki arti dalam tentang berpikir positif, dia mengatakan, “Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan setengah agenda..” bukannya mengatakan “Sebelumnya, afwan, kami baru bisa menyelesaikan setengah agenda..”. Nuansa hati ketika mendengarnya beda kan? Dan itulah efek dari berpikir positif.
Dengan berpikir positif, banyak hal-hal yang ‘lebih’ bisa kita kerjakan daripada dengan berpikir negatif dan hal tersebut pun lebih terasa manfaatnya daripada kita harus membuang-buang waktu untuk berpikir negatif alias su’udzon.
So, teman-teman, yuk kita mulai sambut hari ini dan hari-hari esok dengan berpikir positif!
Mei 5, 2008 at 1:57 am
tulisan yang bagus , tapi mba sering mengganjal hati nih kalo terus menerus berpikir posiif . ketika kita terus menerus berpikir positif bukankah kita akan membuat kotak pembatasan diri sehingga kita tidak akan pernah au dimana sebenarnya keterbatsan kita. menurut saya sih kita juga hars berpikir negatif walau itu menyakitkan tapi itu tidak boleh dipungkiri karena berpikir negaif itu adalah bagian dari dinamika pemikiran… seperti yang ditulis adi gunawan di pembelajar.com.. coba aja mba deh lihat di http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=736&term=berpikir%20positif
taPI overall itulah pikiran pasti akan selalu berubah setiap saat tergantung emosi yang bersandar pada iman.. terinakasih boleh komen..
Mei 5, 2008 at 5:12 am
hm hm..
perlu ada penafsiran beda antara berpikir antisipatif dengan memikirkan kemungkinan2 buruk dengan berpikir negatif itu sendiri..
kalo berpikir antisipatif si.. ya tidak menjadi masalah.. tapi jangan sampai kita terus2an berpikir negatif ato negthink ke orang2 karena selain bikin kepala kita pusing sendiri,, bisa timbul dalam hati kita perasaan2 was-was, dll..
tapi memang.. tidak dapat dipungkiri kalau sampai saat ini fitri juga masih suka berpikir negatif.. ya..ya.. sabar dan ikhlaslah..
makasi komennya.. ^^