Hampir setahun yang lalu, fitri mendapatkan taushiyah ini ketika menunggu pengumuman SPMB, saat itu SPMB diadakan tanggal 4-5 Juli 2007 dan pengumumannya tanggal 2 Agustus. Yah, dapat dipastikan di antara tanggal-tanggal segitu fitri mendapat taushiyah ini ketika angkatan rohis kami (2007) mengadakan ‘Perpisahan’ sekaligus dauroh akhir menuju kampus.
Yang dibahas dalam dauroh yang hanya satu hari dan bertempat di rumahku adalah “Hal-hal esensial yang menguji keimanan kita”. Apa sajakah itu?
Menguji keimanan disini, tidak hanya berlaku bagi seorang ikhwan maupun akhwat, bahkan orang awam pun juga akan teruji keimanannya ketika hal-hal ini terjadi.
Yang pertama adalah VMJ alias Virus Merah Jambu
Bukanlah suatu hal yang mengejutkan jika seorang wanita menyukai pria dan begitu pula sebaliknya, tapi VMJ disini juga seringkali berlaku pada ikhwan-akhwat. Hubungan yang terikat oleh seringnya bekerja bersama dalam menjalankan suatu amanah mungkin saja akan berlangsung sampai akhirnya hal-hal yang tidak berhubungan dalam dakwah dibahas, seperti masalah pribadi, keluarga, dan lain-lain yang pada akhirnya akan menimbulkan sebuah keterikatan hati yang dapat merusak citra dakwah itu sendiri. Banyak kasus yang kita lihat di sekitar kalangan aktifis dakwah yang akhirnya terjerumus dalam permasalahan VMJ ini. Contohnya saja ada seorang akhwat yang akhirnya nempel banget sama si ikhwan, sampai sering berdua-duaan di kantin, di perpustakaan, dan bahkan pulang bareng, naudzubillahi min dzalik. Kasus VMJ ini selain dapat menunkan kadar kualitas iman kita alias futur, dapat juga merusak citra dakwah terutama bagi orang-orang awam yang melihatnya. Sering memang fitri dengar ketika ada seorang yang masih ingin belajar Islam jadi bingung dengan apa yang dilakukan oleh ikhwan-akhwat aktifis dakwah tersebut yang sering terlihat berdua-duaan. Dia, yang sedang belajar Islam tentunya bingung, “Sebenarnya pacaran tu boleh ga si dalam Islam?” karena melihat tingkah ikhwan-akhwat yang mengaku aktifis dakwah tapi malah berpacaran. Lalu apa yang bisa kita pertanggungjawabkan kalau begitu? Apa yang kita dakwahkan?
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra’: 32)
Yang kedua adalah Pengumuman Kelulusan SPMB
Bisa dikatakan pula pengumuman SPMB akan mempengaruhi keimanan kita. Bukan hanya pengumuman SPMB ya, melainkan pengumuman disini mengalami generalisasi makna ke pengumuman-pengumuman kelulusan lainnya. Karena waktu itu masa menunggu pengumuman SPMB, maka bahasanya Pengumuman Kelulusan SPMB.
Kalau kita lulus tentunya kita pasti akan sangat bersyukur, berucap alhamdulillah, dan mungkin menangis bahagia. Tapi itu saja tidak cukup, terkadang jika kita lulus kita juga bisa jadi merasa sombong, merasa pintar hingga akhirnya selang beberapa waktu dari pengumuman, kita lupa bahwa kita lulus adalah berkah dari Allah. Usaha yang kita lakukan adalah 50% dan 50%nya lagi adalah campur tangan Allah. Jika Allah menghendaki kita lulus, maka kita akan lulus, akan tetapi, jika Allah masih menangguhkan yang terbaik untuk kita, maka kita akan ditunda dulu kelulusannya.
Lain halnya dengan seorang yang tidak lulus SPMB. Ada orang yang tidak lulus dengan menerima dengan ikhlas dan tetap semangat untuk berjuang dan selalu berpikir bahwa mungkin ini adalah skenario Allah yang paling baik, ada juga orang yang tidak lulus kemudian merasa down berlebihan, akhirnya tidak percaya akan apa yang telah menimpa dirinya, jadi bersu’udzon kepada Allah, meninggalkan huznudzon kepada Allah, dan berpikir bahwa semua usahanya sia-sia. Inilah bentuk ujian keimanan yang kedua. Ketika merasa nikmat lulus diuji, tapi ketika merasakan tidak lulus juga diuji. Sesungguhnya Allah ingin melihat bagaimana bentuk keistiqomahan kita ketika terjadi hal seperti ini, saat kita lulus atau tidak. Dan percayalah bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membebankan seseorang di luar kemampuannya.
Lulus tidak lulus adalah suatu hal kecil di mata Allah tapi sering sekali kita memaknainya terlalu besar, seperti di ambang hidup dan mati, akhirnya ketika suatu keputusan ditimpakan kepada kita, maka akan sangat luar biasa efeknya bagi kita, atau setidaknya kita terlalu memaknainya begitu.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala yang diusahakannya dan ia mendapat siksa yang dikerjakannya. : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” “ (Q.S. Al-Baqarah: 286)
Yang ketiga adalah ketika masalah berdatangan
Masalah demi masalah berdatangan, lalu apa yang kita lakukan?
Ada orang yang memaknai hal ini sebagai ujian untuk meningkatkan kualitas iman kita, karena apabila kita lulus, maka kita telah memasuki tingkat berikutnya. Tetapi jika kita belum lulus, maka Allah akan terus memberikan permasalahan yang sama kepada kita sebagai bentuk remedial. Ibaratnya saja, ujian yang dikerjakan anak SD tentunya terasa sangat susah bagi anak SD dan terasa sangat mudah bagi anak SMA. Tapi, untuk menuju SMA, seorang anak SD tersebut haruslah lulus ujian Sdnya sehingga ia akan menempuh ujian SMP dan akhirnya menghadapi masa SMA. Ujian tersebut juga mengalami peningkatan kualitas, dan masing-masing yang masih dalam tingkatannya pastilah merasakan susah dengan ujiannya. Dan jika dia belum lulus ujian SD, maka ia akan diuji lagi dengan ujian yang sama atau yang disebut perbaikan, dan jika ia lulus, maka ia akan mengalami peningkatan kadar kualitas ujian. Begitu juga dengan ujian dalam hidup ini, nah sekarang bagaimana kita memaknai ujian-ujian ini? Ada orang yang tidak tahan karena belum lulus-lulus dan akhirnya justru menjatuhkan diri dalam kekufuran, dan ada pula orang yang pasrah saja menerima keadaan tanpa mau melakukan ujian perbaikan, akan tetapi ada orang yang terus bersemangat agar ia bisa lulus. Inilah salah satu bentuk penguji keimanan seseorang, apakah ia akan jadi futur atau tambah beriman.
Ingat kisah-kisah para nabi ketika menghadapi permasalahan? Yang terjadi pada mereka adalah bertambah kualitas iman mereka, padahal ujian yang mereka hadapi jauh lebih berat dari kita, kita mah ga ada apa-apanya, lalu bagaimana dengan diri kita?
Jazakumullah khairan katsira untuk Akh Bambang yang memberikan taushiyah ini pada kami
Juni 24, 2008 at 7:47 am
Assalam..
fitri, post-nya double tuh..
Juni 24, 2008 at 4:22 pm
@s4iga
waalaikumussalam..
eh iya,, aduh afwan..
iya.. ini udah fitri perbaiki,,
syukron ya..