Seperti kata pepatah, wanita adalah perhisan dunia. Dunia ini tidak akan indah tanpa adanya kehadiran wanita. Namun, sering pula dikatakan wanita adalah racun dunia. Banyak sekali fenomena fitnah yang terjadi pada kaum lelaki disebabkan oleh permasalahan wanita. Sebenarnya yang manakah yang benar? Apakah sebutan yang pantas bagi wanita? Perhiasan dunia atau racun dunia?
Tak satu pun wanita di dunia ini rela dirinya dikatakan sebagai racun dunia. Tentunya, setiap wanita akan memilih dirinya disebut sebagai perhiasan dunia. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah” (HR. Muslim)
Ada persyaratan tersendiri bagi seorang wanita untuk disebut-sebut sebagai perhiasan dunia yang terbaik, yaitu menjadi wanita sholihah. Lalu bagaimana caranya agar bisa menjadi wanita sholihah yang merupakan perhiasan terbaik?
Seorang wanita adalah seseorang yang memiliki peran besar dalam kehidupan ini. Selain sebagai seorang anak dari orang tuanya, kelak ia akan menjadi seorang istri dari suaminya, dan dari rahimnya akan lahir generasi baru yang harus ia didik. Menjadi seorang muslimah, ia harus bisa memiliki 3 peran penting ini yaitu menjadi Mar’atusshalihah (wanita yang sholihah), zaujatul muthi’ah (istri yang taat), dan ummul madrasah (ibu yang mendidik).
Seperti yang telah diuraikan di atas, sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah. Peran ini adalah peran dirinya terhadap penciptaNya yaitu Allah swt. Bagaimana seorang wanita itu harus bisa menjaga kehormatan dirinya, taat beribadah kepada Allah swt, mengerjakan hal-hal yang dihalalkan Allah baginya dan menjauhi yang diharamkan Allah baginya, berperilaku yang santun, berkata-kata yang halus dan lembut, hormat pada kedua orang tuanya, dan menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat menodai kelembutan hatinya. Selain menjadi seorang wanita sholihah untuk dirinya sendiri, ia harus bisa men-sholih-kan orang lain sehingga menjadi penting bagi dirinya untuk meningkatkan wawasan yang dimilikinya agar ia bisa mengajak orang lain pada Islam dan kebaikan.
Poin kedua yang penting dari seorang muslimah adalah menjadi zaujatul muthi’ah atau istri yang taat. Seorang istri adalah perhiasan bagi suaminya. Seorang istri adalah penentram hati suaminya seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Ar-Ruum: 21)
Fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat belakangan ini adalah terjadi perceraian antara suami dengan istri. Hal ini mungkin saja disebabkan karena seorang istri tak lagi menjadi penentram hati suaminya. Hal yang paling penting agar istri dapat menjadi penentram hati suaminya adalah dengan menjadi seorang istri yang taat pada suami. Tentunya ketaatan ini terbatas selama suaminya taat pada Allah dan RasulNya. Nabi saw. bersabda, “Apabila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan puasa, taat kepada suaminya, niscaya di masuk surga Tuhannya” (HR. Ahmad)
Sungguh, sebetulnya amat mudah seorang wanita untuk memasuki surga Allah yaitu menjalankan shalat, puasa, dan taat pada suami. Hanya saja, menjalankan ketiga hal tersebut dengan sebaik-baiknya dan ikhlas adalah hal yang tidak mudah. Di antara ketaatan kepada suaminya adalah membuatnya merasa nyaman jika dia pulang. Tersenyum untuknya, menenangkan pikirannya, tidak memicu persoalan dengannya, tidak menuntut uang belanja yang memberatkan, menjaga amanatnya jika dia tidak ada, diam ketika dia berbicara, mendidik anak-anaknya di atas Islam dan tidak menyelisihi perintahnya.
Poin terakhir yang penting dari seorang muslimah adalah menjadi ummul madrasah atau ibu yang mendidik. Kelak, dari rahim seorang wanita akan lahir sebuah generasi baru. Disini, seorang ibu sangat memiliki peran besar bagi pembentukan kepribadian anak-anaknya. Seorang ibu adalah seseorang yang sangat dekat hatinya dengan anaknya. Anak pun memiliki kecenderungan yang besar terhadap ibunya, hal ini disebabkan oleh ikatan batin antar ibu dan anak yang telah tercipta selama 9 bulan 10 hari ketika anak masih dalam kandungan ibunya. Bayangkan saja, kemanapun sang ibu pergi, apa pun yang ia lakukan dan apa pun yang dia makan, ia pasti akan membaginya pada anaknya. Kemudian ikatan batin ini semakin kuat tatkala ibu menyusui anaknya setelah anaknya lahir. Sehingga, wajar saja jika antara ibu dan anak sangat kuat ikatan batinnya. Disinilah peran penting seorang wanita untuk mendidik anaknya. Seorang ibu harus mampu mendidik anaknya akan nilai-nilai kehidupan dan keislaman sejak masih dini, agar kelak sang anak dapat memiliki kepribadian yang tangguh dan Islami. Bagi anak, ibu adalah madrasah pertamanya sehingga peran ibu adalah membangun madrasah yang kelak dapat membangun peradaban dari rumahnya. Sangat sering terjadi fenomena ‘anak bandel’ dan ‘salah pergaulan’ dalam masyarakat. Sebenarnya hal ini tidak semata-mata karena lingkungan yang menyebabkan sang anak jauh dari nilai-nilai budi pekerti, bisa saja hal ini disebabkan oleh sang ibu yang kurang bisa mendidik anaknya sejak kecil akan nilai-nilai tersebut sehingga ketika sang anak sudah besar ia akan menerima nilai-nilai lain dari lingkungannya.
Lihatlah bagaimana pribadi seorang Maryam binti Imran, ibunda dari Nabi Isa as., ia adalah seorang wanita mulia yang benar-benar menjaga kehormatan dirinya dan menjaga ketaatannya pada Allah sehingga Allah mengizinkannya memiliki seorang putra yang menjadi seorang Nabi yaitu Isa bin Maryam sebagai ganti ketaatannya pada Allah.
Itulah 3 peran penting yang harus dimiliki oleh setiap muslimah. Ia harus bisa menjadi mar’atusshalihah, zaujatul muthi’ah, dan ummul madrasah. Apabila seorang wanita dapat menjalankan ketiga peran ini dengan baik, maka ia benar-benar dapat disebut sebagai sebaik-baik perhiasan di dunia.
Saat ini, mungkin belum bisa menjadi seorang zaujatul muthi’ah dan ummul madrasah, akan tetapi sebagai seorang wanita yang bercita-cita menjadi mar’atusshalihah kita harus melatih diri kita sejak dini agar bisa menjalankan kedua peran yang lainnya dengan baik di masa depan. Membantu pekerjaan rumah tangga adalah bentuk pelatihan diri kita agar bisa menjalankan kedua peran yang lain tersebut dengan baik nantinya. Hal yang sering membuat saya sedih melihat aktivitas akhwat-akhwat adalah saya merasa akhwat-akhwat saat ini terlalu militan, dalam artian mengerjakan tugas-tugas dakwah di kampus sampai berlebihan. Walaupun sudah diberlakukan jam malam bagi akhwat agar pulang tidak terlalu malam, tetap saja hal tersebut sering mengganggu fitrah seorang akhwat. Ketika sudah pulang cukup malam, umumnya badan terasa letih, sehingga tidak dapat membantu pekerjaan rumah tangga. Boro-boro mengurus pekerjaan yang lainnya, kadang-kadang saking letihnya, mengurus diri sendiri pun tidak bisa. Mungkin terasa enak bagi yang memiliki pembantu rumah tangga di rumah, tapi bagi yang tidak? Dan kadang-kadang pun karena tuntutan dakwah, seorang akhwat harus berangkat pagi-pagi sekali ke kampus sehingga -lagi-lagi- tidak dapat membantu pekerjaan rumah tangga. Bahkan kadang-kadang hari libur pun tetap dipakai untuk berpergian dengan alasan mengerjakan tugas dakwah/organisasi.
Suatu hal yang perlu menjadi perhatian khususnya bagi seorang muslimah adalah menjalankan tugas dakwah/organisasi merupakan hal yang penting, tapi jangan lupakan peran lain kita yaitu kepada orang tua dan saudara kita. Peran yang dijalankan oleh wanita berbeda dengan peran yang dijalankan oleh laki-laki. Wanita memiliki peran selain mengurus dirinya ia harus mengurus orang lain dalam hal ini keluarganya. Mengurus ini pun tidak dapat dijalankan secara instan. Hal ini membutuhkan pelatihan sejak dini agar kelak ia bisa menjalankan ketiga peran tersebut dengan baik.
Disini, penulis juga masih belajar bagaimana menyeimbangkan kehidupan agar bisa melatih diri untuk menjalankan ketiga peran tersebut dengan baik nantinya. Semoga kelak kita dapat menjadi perhiasan dunia terbaik seperti yang dikatakan oleh Rasulullah saw.

~hihihi, mila doain deh fit…
~tapi ada lho fit yang tetep bisa menyeimbangkan kegiatannya di kampus dan di rumah, tapi yaaa memang ga banyak, dan mudah2an mampu mencontoh beliau2 yang luarbiasa itu…
~duh, shalihah, kata yang indah… tapi susah nian…
@inasakamila
iya mil, semoga bisa jadi yang kayak gitu..
emm,, tau ga saya perhatikan dari seorang akhwat dari seorang ikhwan, mereka lebih amanah dan itsar
O ya link nya pakai alamat yang ini aja FItri
andreassenjaya.co.cc
[...] pada postingan fitri sebelumnya, yang ini, peran muslimah dapat dirangkum menjadi 3 yaitu mar’atushshalihah (wanita yang shalihah), [...]
Segala Puji bagi Tuhan Alam Semesta Allahu Ta’ala yang mengabarkan kebaikan-kebaikan
agar aku dan kalian mengambil manfaat dari kebaikan dan berbagi untuk sesama.
Salam Kenal dari Kami GAMIS MURAH
Thx infonya
[...] Sumber tags: islam, memperbaiki diri, muslimah, wanita shalihah Posted by Azzahra in Melati on July 9, 2011 Leave a Reply Name (required) [...]